PRAKTIKUM TEKNOLOGI FERMENTASI PANGAN "WINE"

LAPORAN MINGGUAN
PRAKTIKUM TEKNOLOGI FERMENTASI PANGAN

ACARA I
WINE
 







OLEH:
MIRA IDORA
J1A 013 081
KELOMPOK VIII











PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2015




ACARA I
WINE
PENDAHULUAN
Latar Belakang
   Produk fermentasi merupakan produk yang dihasilkan dengan bantuan mikroorganisme atau bakteri yang menguntungkan. Anggur atau biasa disebut wine yang merupakan fermntasi yang dibantu oleh bakteri asam laktat dalam proses penmbuatannya. Produk minuman fermentasi selain menggunakan anggur dapat juga digunakan bahan baku seperti apel, pisang dan juga salak. Pemilihan bahan baku dan juga penambahan volume starter yang berbeda-beda dapat menentukan rasa maupun kualitas dari suatu minuman anggur.
Kandungan alkohol wine berkisar antara 9-18%. Kandungna alkohol wine ditentukan oleh kadar gula buah, jenis khamir dan lama fermentasi. Jenis khamir yang digunakan adalah Saccharomycs cerevisiae. Buah yang baik untuk digunakan dalam pembuatan wine yaitu apabila mengandung asam-asam seperti asam tartart, malat dan sitrat.
Karakteristik wine dipengaruhi oleh komposisi bahan baku, proses fermentasi dan perubahan-perubahan yang terjadi baik yang disengaja maupun yang terjadi secara alami selama fermentasi. Wine memiliki aroma dan rasa khas yang berasal dari buah yang digunakanya. Diketahui pula bahwa starter yang digunakan juga mempengaruhi sifat organoleptiknya. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum pembuatan wine agar dapat diketahui bagaimana pengaruh volume starter terhadap sifat organoleptik wine.

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari jenis inokulum dan volume starter terhadap sifat organoleptik wine.
TINJAUAN PUSTAKA
Minuman anggur atau wine pada dasarnya merupakan minuman hasil fermentasi buah-buahan. Tetapi sebagian besar masyarakat konsumen baik di negara-negara lainnya menetapkan secara ketat definisi wine, merupakan minuman hasil fermentasi sari buah anggur. Minuman anggur yang dibuat dari buah-buahan lain selain buah anggur fruit wine. Karakteristik dan mutu wine ditentukan oleh komposisi bahan baku, proses fermentasi dan perubahan-perubahan yang terjadi baik alami atau disengaja dalam periode setelah fermentasi selesai (Elan, 2004).
Seperti halnya buang anggur, semua jenis buah-buhan akan menghasilkan wine jika difermentasi. Cara yang digunakan untuk memproduksi minuman beralkohol dari sari buah sama dengan cara produksi wine dari buah anggur. Perbedaannya ialah ekstraksi gula dan bahan-bahan terlarut dari buah-buahan lain lebih sulit daripada anggur. Dan kandungan gula dalam sari buah jenis buah-buahan lebih kebanyakan rendah daripada buah anggur, tetapi kandungan asam-asam organiknya lebih tinggi (Gardner, 2007).
Buah apel yang baik untuk difermentasi menjadi cider adalah apel dengan kandungan gula tannin yang tinggi. Jenis apel ini mengandung sekitar 10 persen fruktosa, 2 persen sukrosa, 1,5 persen glukosa 0.2-0.9 persen malat dan 0.1-0.5 persen tannin. Berbagai variasi wine apel mengandung sejumlah besar senyawa fenolik, seperti turunan asam hidrosinamat, katekin monomer an oligomer, flavor dan beberapa monomer dan polimer. Keberadaan senyawa fenolik dalam wine mempengaruhi warna, rasa dan aroma (Tchantchou, 2004).
Di Amerika Serikat sari buah apel yang tidak difermentasi disebut cider. Produk fermentasi dengan kadar alkohol 0.5-8.0 persen disebut hard cider atau applejack. Sedangkan di Inggris sari buah yang difermentasi disebut cider. Sari buah apel yang difermentasi dengan kadar alkohol lebih besar dari 8.5 persen disebut apple wine. Buah apel yang baik untuk difermentasi menjadi cider adalah apel dengan kandungan gula tannin yang tinggi. Jenis apel ini mengandung sekitar 10 persen fruktosa, 2 persen sukrosa, 1,5 persen glukosa 0.2-0.9 persen malat dan 0.1-0.5 persen tannin (Attri, 2009).
Sari buah diinokulasi dengan galur Saccharomyces uvarum. Karakteristik wine dipengaruhi oleh komposisi bahan baku, proses fermentasi dan perubahan-perubahan yang terjadi baik yang disengaja maupun yang terjadi secara alami selama fermentasi.  Hasil fermentasi dipengaruhi oleh jenis substrat, berbagai macam mikroba dan kondisi disekelilingnya yang mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme mikroba tersebut. Strain ragi Saccharomyces cerevisiae merupakan salah satu yang digunakan dalam pembuatan wine (Higgins, 2005).



PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 04 November 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a.       Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol  UC, blender,  kain saring,  erlemeyer,aluminium foil, kapas, selang  plastik dan kertas label.
b.      Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah buah apel, air bersih, ragi FERMIFAN dan ragi PAKMAYA.
Prosedur Kerja
Sari buah apel 150 ml


HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
                                Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Uji Skoring Wine

Nama Panelis
Parameter
Warna
Bau
5 gr
7,5 gr
10 gr
12,5 gr
5 gr
7,5 gr
10 gr
12,5 gr
Ina
3
2
2
2
2
2
2
2
Mala
2
3
4
1
4
4
4
4
Hiji
3
3
2
2
3
3
4
4
Ratna
3
4
2
2
3
4
4
4
Naila
4
4
2
2
3
4
2
4
Yudi
5
4
2
4
5
5
5
3
Tiwi
3
3
2
2
2
3
2
2
Sisil
2
2
2
2
2
2
2
2
Maelan
2
2
2
2
2
2
2
2
Silka
4
3
3
2
1
2
2
3
Endang
3
2
2
2
1
2
1
2
Halil
3
3
3
3
3
3
3
3
Jaya
2
3
3
3
3
3
3
3
Triyono
3
3
4
1
1
1
1
1
Ayu
2
3
3
1
2
1
1
1

Tabel 1.2 Tabel Transformasi Uji Skoring Wine

Nama Panelis
Parameter
Warna
Bau
5 gr
7,5 gr
10 gr
12,5 gr
5 gr
7,5 gr
10 gr
12,5 gr
Ina
1,23
0,91
0,91
0,91
0,90
0,91
0,91
0,91
Mala
0,91
1,23
1,50
0,50
1,50
1,50
1,50
1,50
Hiji
1,23
1,23
0,91
0,91
1,23
1,23
1,50
1,50
Ratna
1,23
1,50
0,91
0,91
1,23
1,50
1,50
1,50
Naila
1,50
1,50
0,91
0,91
1.23
1,50
0,91
1,50
Yudi
1,74
1,50
0,91
1,50
1.74
1,74
1,74
1,23
Tiwi
1,23
1,23
0,91
0,91
0,91
1,23
0,91
0,91
Sisil
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
Maelan
0,911
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
0,91
Silka
1,50
1,23
1,23
0,91
0,50
0,91
0,91
1,23
Endang
1,23
0,91
0,91
0,91
0,50
0,91
0,50
0,91
Halil
1,23
1,23
1,23
1,23
1,50
1,23
1,23
1,23
Jaya
0,91
1,23
1,23
1,23
1,50
1,23
1,23
1,23
Triyono
1,23
1,23
1,50
0,50
0,50
0,50
0,50
0,50
Ayu
0,91
1,23
1,74
0,50
0,91
0,50
0,50
0,50

Tabel 1.3 Tabel Anova Parameter Warna Wine
Sumber keragaman
Derajat bebas

JK

KT

Fhit

P
Block
14
11.93333333
0.852381
1.5840708
.1243 ns
Konsentrasi ragi
3
7.65
2.55
4.7389381
.0062 **
Galat
42
22.6
0.5380952

Total
59
42.18333333

Tabel 1.4 Tabel uji lanjut BNJ parameter Warna Wine
Rangking
Konsentrasi ragi
Rata-rata
N non-significant
1
5 gr
2.93333333333
15 a
2
7,5 gr
2.93333333333
15 a
3
10 gr
2.53333333333
15 ab
4
12,5 gr
2.06666666667
15  b
Tabel 1.5 Tabel Anova parameter Bau Wine
Sumber keragaman
Derajat bebas

JK

KT

Fhit

P
Block
14
62.4
4.4571429  
16.517647
.0000 ***
Konsentrasi ragi
3
0.666666667
0.2222222  
0.8235294
.4883 ns
Galat
42
11.33333333
0.2698413

Total
59
74.4


Tabel 1.6 Tabel uji lanjut BNJ parameter Bau Wine
Rangking
Konsentrasi ragi
Rata-rata
N non-significant
1
7,5 gr
2.73333333333     
15 a
2
12,5gr
2.66666666667     
15 a
3
10 gr
2.53333333333     
15 a
4
5 gr
   2.46666666667
15 a



PEMBAHASAN
Wine merupakan minuman hasil fermentasi perasan buah anggur yang dilakukan sel khamir. Pada proses fermentasi ini gula yang terdapat didalam perasaan akan  dirombak oleh sel khamir menjadi alkohol dan gas CO­­2. Gula yang ditambahkan pada sari buah bertujuan untuk memperoleh kadar alkohol yang lebih tinggi, walau bila kadar gula terlalu tinggi aktivitas dari khamir dapat terhambat. Konsentrasi optimum untuk menghasilkan kadar alkohol yang optimum adalah 28% (Elan, 2004).
Praktikum pembuatan wine ini dilakukan dengan 3 perlakuan yaitu penggunaan volume starter sebanyak 5 gram, 7,5 gram, 10 gram dan 12,5  gram. Parameter yang dilihat adalah bau dan warna dengan jumlah panelis sebanyak 15 orang. Berdasarkan hasil analisis data dengan analisis ragam ANOVA parameter warna diketahui bahwa Fhitung perlakuan (yang dalam hal ini merupakan volume starter) lebih besar daripada Ftabel, Fhitung perlakuan sebesar 4.7389381 sedangkan Ftabel perlakuan sebesar .0062 yang menunjukkan adanya perbedaan nyata yang sanagt sangat signifikan (***). Berdasarkan hasil analisis ragam ANOVA pada taraf nyata 5% maka dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada tingkat penggunaan volume starter pada warna wine, sehingga dilakukan uji lanjut menggunakan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil uji lanjut BNJ pada taraf nyata 5% menunjukan bahwa warna wine dengan volume starter 5 gram tidak berbeda nyata terhadap volume starter 7,5 gram dan 10 gr namun berbeda nyata dengan volume starter 12,5 gram. Volume starter 7,5 gram tidak berbeda nyata terhadap volume starter 5 gram dan 10 gram namun berbeda nyata dengan volume starter 12,5 gram. Konsentrasi ragi 10 gram tidak berbeda nyata terhadap volume starter 5 gram dan 7,5 gram  namun berbeda nyata dengan volume starter 12,5 gram. Volume starter 12,5 gram tidak berbeda nyata dengan volume starter 10 gram namun berbeda nyata dengan volume starter 5 gram dan 7,5 gram.
Berdasarkan hasil analisis data dengan analisis ragam ANOVA parameter bau diketahui bahwa Fhitung perlakuan (yang dalam hal ini merupakan volume starter) lebih besar daripada Ftabel, Fhitung perlakuan sebesar 0.8235294 sedangkan Ftabel perlakuan sebesar .4883 yang menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata (ns). Berdasarkan hasil analisis ragam ANOVA pada taraf nyata 5% maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada tingkat penggunaan volume starter pada bau wine. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf nyata 5% menunjukan bahwa bau wine dengan volume starter 5 gram, 7,5 gram, 10 gram dan 12,5 gram tidak memiliki perberbedaan yang nyata antara satu sama lain.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, diketahui bahwa pada perlakuan dengan menggunakan volume starter 12,5 gram memberikan hasil yang paling efektif terhadap warna dan bau wine. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi ragi yang ditambahkan maka mikroorganisme yang dihasilkan semakin banyak sehingga akan mempengaruhi rasa yang dihasilkan oleh wine apel tersebut. Menurut Ranizar (2013), Khamir adalah mikrooorganisme yang melakukan fementasi jus buah menjadi wine. Khamir yang umum digunakan dalam fermentasi adalah Saccharomyces sp. Khamir ini akan mengubah gula menjadi alkohol dan CO2. Dalam perombakan ini diperlukan pula nutrien yang mendukung pertumbuhan khamir, jika tidak tersedia pada bahan baku.
Khamir yang umum digunakan dalam fermentasi adalah Saccharomyces sp. Khamir ini akan mengubah gula menjadi alkohol dan CO2. Dalam perombakan ini diperlukan pula nutrien yang mendukung pertumbuhan khamir, jika tidak tersedia pada bahan baku. Bahan yang umum dtambahkan adalah amonium fosfat sebagai sumber nitrogen. Jika proses fermentasi telah selesai, maka dilakukan proses penjernihan. Dalam proses penjernihan umumnya ditambahan tanin. Tanin akan membantu pembentukan flavor.
Proses penambahan tanin ini disbut aging karena setelah ditambahkan wine dibiarkan beberapa lama (dapat sampai berbulan-bulan). Pembuatan wine ini ditambahkan starter agar fermentasi yang dilakukan berjalan dengan baik. Hasil fermentasi dipengaruhi oleh jenis substrat, berbagai macam mikroba dan kondisi disekelilingnya yang mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme mikroba tersebut. Strain ragi Saccharomyces cerevisiae merupakan salah satu yang digunakan dalam pembuatan wine.



KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.    Wine merupakan minuman beralkohol yang biasanya terbuat dari jus anggur yang difermentasi.
2.    Saccharomyces sp merupakan salah satu jenis khamir yang berperan dalam pembuatan wine.
3.    Volume starter 12,5 gram memberikan hasil yang paling efektif terhadap warna dan bau wine.
4.    Semakin tinggi konsentrasi ragi yang ditambahkan maka mikroorganisme yang dihasilkan semakin banyak sehingga akan mempengaruhi rasa yang dihasilkan oleh wine apel tersebut.
5.    Faktor yang mempengaruhi dalam pembuatan wine apel  adalah bahan baku, lama fermentasi, konsentrasi ragi dan tingkat sanitasinya.           
        
DAFTAR PUSTAKA
Attri, 2009. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang:  Djambatan.

Elan, 2004. Ilmu Pangan. Jakarta: UI-Press.

Gardner, 2007. Combine Effects of Sulfites, Temperature and Agitation Time on Production of Glycerol in Grape Juice by Saccharomyces cerevisiae. Appl Environ Microbiol 59: 2022-2028.

Higgins, 2005. Bio Industri Penerapan Teknologi Fermentasi. Mediyatama Sarana Perkasa.Jakarta.

Ranizar 2013. Teknologi Fermentasi. Bandung: rcan.

Tchantchou, 2004. Dietary Supplementation With Apple Juice Concentrate Synthase Transcription and Activity that Accompanies Dietary and Genetically-induced Oxidation Stress. The Journal of Nutrition Health and Aging. 8: 492-496.








Komentar